Arthisnews – Opini Era digital yang berkembang dengan ritme serba cepat membuat teknologi menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia modern. Dari saat membuka mata, hingga kembali beristirahat, interaksi dengan perangkat digital baik ponsel pintar, komputer, maupun televisi menjadi rutinitas yang nyaris mustahil ditinggalkan. Digitalisasi mengubah lanskap pendidikan, dunia kerja, hingga cara kita menjalin relasi sosial. Di balik segala kemudahan itu, muncul pertanyaan mendasar. Apakah kita tumbuh karena dorongan intelektual untuk memahami dunia, atau justru terperangkap dalam ketergantungan yang mengerdilkan kemampuan berpikir kritis?

Dalam sistem pendidikan Indonesia, persoalan utama dalam penerapan pembelajaran digital tidak lagi sekadar terbatas pada ketersediaan fasilitas, melainkan pada cara kita memaknai teknologi sebagai medium belajar. Generasi yang dijuluki digital native memang lahir dan besar bersama perangkat digital, tetapi tidak otomatis tumbuh secara intelektual karenanya. Ada perbedaan signifikan antara memanfaatkan teknologi sebagai alat pengayaan pengetahuan dan menyerahkan seluruh proses berpikir kepada teknologi sehingga rasa ingin tahu menjadi tumpul.

Sebelum hadirnya internet, proses memperoleh pengetahuan menuntut usaha dan ketekunan. Individu harus mencari, membaca, bertanya, dan menunggu untuk mendapatkan jawaban. Proses itu menumbuhkan kedalaman intelektual. Kini, informasi tersedia dalam hitungan detik suatu kemajuan yang mendemokratisasi akses pengetahuan, tetapi sekaligus berpotensi mengikis nilai fundamental dari proses belajar itu sendiri. Kemudahan seringkali menggantikan pengalaman mendalam yang lahir dari rasa penasaran.

Baca Juga:  RDP Gagal Jawab Masalah, Maritim Muda Bulukumba Kritik Keras DPRD Bulukumba dan BGN: Program MBG Berantakan, Tak Sesuai Gizi dan Tak Manusiawi!

Fenomena di lingkungan mahasiswa menggambarkan perubahan ini. Banyak yang memilih menyalin jawaban dari internet daripada memahami esensi materi. Pendidikan akhirnya direduksi menjadi upaya instan untuk mencapai hasil, bukan rangkaian proses membangun cara berpikir. Mesin pencari mungkin memberikan jawaban, tetapi tidak dapat menggantikan kemampuan manusia untuk memahami, menimbang, dan mengolah informasi secara kritis.

Teknologi seharusnya menjadi instrumen, bukan pusat kehidupan. Namun dalam praktiknya, manusia kerap menyesuaikan diri dengan algoritma. Media sosial secara perlahan membentuk preferensi berpikir, bahkan memengaruhi pemahaman kita terhadap realitas. Trending topic menjadi sumber pengetahuan yang dianggap lebih valid daripada literatur akademik. Ketika algoritma bekerja sebagai kurator informasi, ruang perenungan semakin menyempit.

Ketergantungan digital pun sering hadir dalam bentuk kecemasan saat tidak memeriksa notifikasi, ketidakmampuan fokus tanpa distraksi audiovisual, atau preferensi terhadap konten edukasi singkat ketimbang membaca jurnal ilmiah. Kecepatan dan hiburan menggantikan kedalaman dan ketekunan. Algoritma mencerminkan kebiasaan kita; semakin sering kita mengonsumsi konten dangkal, semakin dangkal pula informasi yang disajikan kepada kita. Inilah pola yang perlahan menumpulkan kemampuan berpikir kritis.

Baca Juga:  Kasus Hukum Tak Kunjung Tuntas, PMII Sinjai Tantang Kapolres Baru Buktikan Kinerja

Padahal rasa penasaran merupakan motor utama penemuan dan inovasi. Hampir semua kemajuan besar dalam sejarah lahir dari pertanyaan sederhana yang dikejar dengan tekun. Namun dalam era digital, rasa penasaran kerap terkubur oleh banjir informasi yang membuat kita merasa tidak perlu lagi mencari jawaban.

Mahasiswa masa kini sejatinya memiliki potensi yang luar biasa. Dengan pemanfaatan internet, mereka dapat mengakses sumber ilmu global, berdiskusi lintas budaya, dan berkolaborasi melampaui batas geografis. Namun potensi itu hanya dapat berkembang jika ditopang oleh rasa penasaran yang autentik, bukan sekadar dorongan untuk mendapatkan jawaban cepat atau mencapai popularitas digital.

Waspada terhadap ketergantungan digital bukan berarti menolak teknologi. Yang diperlukan adalah kesadaran digital kemampuan memahami dampak teknologi terhadap cara berpikir, belajar, dan berinteraksi. Mahasiswa perlu membangun disiplin, seperti mengatur waktu penggunaan gawai, belajar tanpa gangguan digital, dan memilih sumber yang substansial daripada sekadar populer. Kemampuan untuk hening dan berpikir tanpa distraksi digital menjadi kompetensi intelektual yang semakin penting.

Baca Juga:  Cuaca Tidak Mendukung, Musrenbang Kecamatan Pulau Sembilan Digelar di Sinjai Utara

Tumbuh di era digital berarti menemukan keseimbangan antara memanfaatkan teknologi dan mempertahankan kualitas kemanusiaan. Teknologi dapat menjadi guru yang luar biasa jika digunakan dengan kesadaran untuk mengeksplorasi, bukan sekadar mengonsumsi. Membaca lebih dari satu sumber, memverifikasi informasi, dan mempertahankan semangat bertanya adalah fondasi untuk tetap menjadi pembelajar kritis.

Hidup di tengah dunia algoritmik menuntut kita menjaga ruang kemanusiaan yang paling esensial, yakni rasa penasaran. Teknologi tidak menentukan siapa kita, ia hanya memperlihatkan bagaimana kita menggunakannya. Di tangan individu yang sadar dan aktif, teknologi menjadi pintu menuju peradaban yang lebih maju. Namun di tangan yang pasif, ia dapat menjelma menjadi jerat tak kasat mata yang membatasi pikiran.

Kita tumbuh bersama teknologitetapi pertumbuhan itu harus diarahkan oleh intelektualitas, bukan oleh algoritma. Sebab, yang membuat manusia berkembang bukanlah perangkat digital, melainkan rasa ingin tahu yang tidak pernah padam.

Penulis Opini : A. Nurfaizah (Mahasiswa IAIN Bone Pendidikan Islam Usia Dini)