Jakarta, Arthisnews — Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) memperingati hari jadinya yang ke-25 dengan menghadirkan agenda inspiratif bertajuk Inspirational Women Talk dengan tema “Empowered Women, Powerful Change”, Selasa 27 Januari 2026, di Aula Bhinneka Tunggal Ika BPOM RI, Jakarta Pusat.
Kegiatan ini menjadi bagian dari refleksi 25 tahun perjalanan BPOM dalam mengawal keamanan obat dan makanan, sekaligus menegaskan komitmen lembaga terhadap penguatan peran perempuan sebagai aktor strategis pembangunan, khususnya di sektor pangan, farmasi, dan UMKM.
Acara tersebut dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI Arifah Fauzi, Wakil Menteri Ketenagakerjaan RI Afriansyah Noor, Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, Ketua Umum Dharma Wanita Persatuan (DWP) Ida Rachmawati Ida Gunadi Sadikin, serta Ketua DWP BPOM RI Elfi Ikrar.
Dalam sambutannya, Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar mengungkapkan bahwa terdapat sekitar 2,4 juta UMKM di bidang pangan, di mana mayoritas pelakunya adalah perempuan.
Menurutnya, angka tersebut mencerminkan besarnya peran perempuan dalam menopang ekonomi keluarga sekaligus perekonomian nasional.
“Memberdayakan perempuan Indonesia berarti memperkuat kontribusi mereka bagi kemajuan Indonesia,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa sektor UMKM pangan dan farmasi memiliki keterkaitan langsung dengan keselamatan publik, sehingga kehadiran perempuan di sektor ini tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga strategis bagi kesehatan masyarakat.
Taruna juga menyebut usia 25 tahun sebagai fase kedewasaan BPOM. Pada tahap ini, BPOM dituntut semakin adaptif dan berpengaruh dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Ia menggambarkan peran BPOM yang mengawal kehidupan manusia sejak “janin dalam kandungan hingga liang lahat”, karena obat dan makanan merupakan kebutuhan paling dasar yang menentukan kualitas hidup rakyat.
Sementara itu, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM RI Mohamad Kashuri menjelaskan bahwa Inspirational Women Talk bertujuan meningkatkan kepercayaan diri, kemandirian, dan kapasitas perempuan, khususnya pelaku UMKM, agar berani mengambil peran strategis.
Kegiatan ini juga membekali peserta dengan keterampilan pemanfaatan media digital untuk penguatan personal branding dan pengembangan usaha, agar UMKM perempuan mampu bersaing dan naik kelas di era digital.
Dari sisi ketenagakerjaan, Wakil Menteri Ketenagakerjaan RI Afriansyah Noor menegaskan bahwa pekerja informal di sektor UMKM merupakan penopang utama ekonomi nasional yang kerap luput dari perhatian. Ia membuka peluang kolaborasi antara Kementerian Ketenagakerjaan dan BPOM melalui skema tenaga kerja mandiri.
“BPOM adalah penjaga awal produk-produk yang dikonsumsi rakyat Indonesia,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa UMKM bukan hanya sektor ekonomi mikro, melainkan mesin pencipta lapangan kerja terbesar di Indonesia.
Sementara itu, Menteri PPPA RI Arifah Fauzi menegaskan bahwa pengawasan obat dan makanan merupakan hak dasar manusia. Ia mendorong integrasi perspektif gender dalam seluruh kebijakan dan program, termasuk di bidang kesehatan dan pengawasan produk.
Menurut Arifah, perempuan dan anak merupakan kelompok yang paling merasakan dampak langsung dari kualitas pengawasan obat dan makanan. Oleh karena itu, edukasi dan kebijakan BPOM perlu menjangkau perempuan secara lebih luas dan inklusif.
“BPOM berpotensi menjadi role model kebijakan berperspektif gender dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045,” tutupnya.

Tim Redaksi