Gowa, Arthisnews — Konflik geopolitik global, tradisi filsafat Barat, hingga simbol sufistik dalam aksara Arab menjadi bahan diskusi dalam kegiatan Tadarus Sastra yang digelar UKM Seni Budaya eSA di Aula Kementerian Agama Kabupaten Gowa, Jumat, 13 Maret 2026 malam.
Forum dialog bertema “Konspirasa di Titik ب” ini menghadirkan narasumber Dr. Muhsin, M.Ag, Pdt. Dr. Diks S. Pasande, M.Th, serta Aslan Abidin dengan moderator Gunawan Hatmin, S.Ag., M.Ag.
Pembahasan diawali oleh Pdt. Dr. Diks S. Pasande yang membuka percakapan dengan menyinggung dinamika konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Menurutnya, berbagai peristiwa geopolitik sering kali hadir melalui narasi yang dibangun oleh berbagai otoritas, sehingga masyarakat kerap dihadapkan pada beragam interpretasi mengenai suatu peristiwa.
Ia menjelaskan bahwa fenomena tersebut dapat dibaca melalui berbagai pendekatan filsafat, termasuk pemikiran Immanuel Kant, Martin Heidegger, dan Arthur Schopenhauer yang membahas relasi antara realitas, kesadaran, serta konstruksi pengetahuan manusia.
“Realitas sering kali tidak hadir secara tunggal. Ia selalu ditafsirkan melalui sudut pandang tertentu,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Muhsin melihat tema titik Ba (ب) dari perspektif sejarah intelektual Islam. Ia menjelaskan bahwa sistem titik dalam tulisan Arab lahir dari kebutuhan historis untuk membedakan bunyi huruf yang serupa.
Namun dalam perkembangan pemikiran sufistik, simbol tersebut kemudian memperoleh makna yang lebih luas. Dalam beberapa tafsir spiritual, titik dipahami sebagai lambang asal mula pengetahuan dan kesadaran.
Dalam sesi berikutnya, Aslan Abidin mengarahkan diskusi pada dinamika sosial di kalangan mahasiswa. Ia menyoroti gejala berkurangnya tradisi membaca dan kecenderungan mahasiswa untuk menghindari perdebatan intelektual.
Menurutnya, situasi tersebut menjadi tantangan bagi dunia akademik untuk kembali menghidupkan budaya literasi dan diskusi kritis.
“Kampus seharusnya menjadi ruang untuk berpikir bebas dan kritis, bukan hanya tempat mengejar gelar akademik,” ungkapnya.
Dialog yang berlangsung hingga larut malam tersebut memperlihatkan bagaimana tema Konspirasa di Titik ب dapat menjadi ruang refleksi untuk membaca realitas global sekaligus dinamika kehidupan intelektual di tingkat lokal.

Tim Redaksi