Arthisnews – Opini Ketika mahasiswa berbicara tentang kaum kiri Mereka kemudian akan di cap sebagai orang komunisme sedangkan kita membaca sejarah banyak hal yang sangat di perjuangkan kaum kiri.

Banyak kemudian mahasiswa/Aktivis mengangkat tangan kiri sebagai simbol politik yang tidak pro terhadap rezim yang ada di pemerintahan yang di mana kekuasaan di kelolah seenak jidatnya kaum kiri kemudian sering kali di anggap sebagai pemberontak negara kata Tan Malaka

“Idealisme adalah kemewahan terkahir yang di miliki orang seseorang pemuda”.

makanya di Indonesia yang kemudian menganut sistem demokrasi perlu adanya partai kiri dalam parlemen sebagai representasi dari kaum bawah orang-orang marjinal yang notabenenya tidak di perhatikan oleh pemerintah banyak seharusnya pemerintah lebih mengedepankan masyarakat kecil yang ada di bawah di sisi lain.

Abang-abang Kaum Kiri itu indentik dengan celana robek muka kusam baju kusut gondrong yang selalu kritik terhadap kebijakan-kebijakan yang tidak pro terhadap pemerintah.

Baca Juga:  Kaum Mustadafin: Kemiskinan Bukan Takdir Ketika Kelaparan Menjadi Protes Bisu

merekalah yang menyuarakan kaum-kaum terbawah Mereka sangat di identikan dengan orang-orang komunis, katanya komunis anti Islam sebenarnya itu adalah dogma yang seharusnya perlu kita pertanyakan apakah benar komunis itu anti Islam kata Karl Marx “Agama Itu Candu Bagi Penganutnya” karena agama dapat di jadikan sebagai senjata paling tajam untuk menidurkan para pemberontak yang tidak sesuai dengan rezim pada hari ini.

dalam bukunya So Hoe Gie “catatan seorang demonstran” itu kemudian aktivis bukan hanya merenung persoalan agama pendidikan akan tetapi bagaimana masyarakat di perjuangkan katanya

kita sebagai regenerasi muda itu harus menjadi tanggung jawab regenerasi tua karena kemiskinan kapitalisme perlahan melahap ekonomi di mana banyak sekali orang-orang bawah tersiksa akibat sistem tersebut.

Baca Juga:  Dema UIN Alauddin Makassar Kritik Kebijakan Kampus: Masuk Susah Keluar di Peras

Lalu apa yang di inginkan Mahasiswa sekarang Mereka sibuk dengan urusan pribadi dan akademi tanpa melihat perannya sebagai mahasiswa tetapi realita sekarang mahasiswa hanyalah seorang kerbau yang pernah oleh sistem pendidikan nyatanya kampus adalah miniatur negara terkecil yang mempunyai sistem yang tersusun rapi.

Bagaimana mahasiswa sekarang buta akan politik dan acuh tak acuh dengan keadaan yang katanya mereka itu baik-baik saja dan Mereka tidak menyadari mereka telah di Tindas dan di tundukkan oleh sistem dalam perguruan tinggi nilai menjadi paling penting dalam perguruan tinggi.

Lalu masyarakat mulai tidak percaya kepada mahasiswa itu sendiri karena banyak ketimpangan yang terjadi mereka tidak bergerak mereka diam membisu apakah Esensi dari mahasiswa sudah mulai pudar pada 1998 itu nama mahasiswa bagaikan garda terdepan bagi masyarakat.

Baca Juga:  Dilema Sertifikasi Halal Bisnis: Lukman Dahlan Dosen Akuntansi FEB Universitas Negeri Makassar

Masyarakat selalu meng-agungkan mahasiswa karena mereka adalah orang intelektual yang berpendidikan miris melihat Mahasiswa sekarang ke kampus buat adu outfit bukan malah saling bertukar ilmu pengetahuan yah itulah fakta dan realita yang terjadi mereka sekarang enggan untuk ber-organisasi Ber-Proses.

Mahasiswa sekarang selagi masih ada uang mereka akan aman-aman saja dan jika kalau mereka diam mereka akan di berikan nilai bagus akan tetapi Nilai sebagai alat penindasan agar mereka tidak melawan.

Wahai Mahasiswa sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang ber-intelektual sebagai agen perubahan,sosial of control sebagai penyambung lidah rakyat Mari Berikan Kembali Perlawanan-perlawanan kecil untuk membuat percikan-percikan api revolusi sebagai perubahan yang di inginkan oleh masyarakat.

Opini : Nabil (Kabid PTKP Kom Syafii’ Ma’arif Cabang Sinjai)