Sinjai, Arthisnews – Malam gelap bersahaja di alun-alun Sinjai Bersatu Lampu-lampu disudut pinggir jalan menyala satu per satu, memantulkan cahaya bersinar yang menerangi meja dan kursi yang tertata rapi di Sudut taman kota itu.

Anak muda menikmati kopi panas dengan racikan Barista melalui tangan dinginya memancarkan aroma harum, sembari tertawa yang dihiasi dengan alunan musik.

Para pegawai warkop sibuk melayani pembeli, sementara di bangku-bangku taman di penuhi pengunjung pemuda dan pemudi yang menikmati suasana malam itu dengan penuh ketenangan.

Di tengah alun-alun sinjai bersatu, bangunan megah berdiri Kokok, seolah menjadi saksi kemajuan kota di malam itu.

Dengan Suasana tampak ramai dengan aktivitas orang-orang di area tempat duduk, Dengan Pencahayaan berasal dari lampu memancarkan cahaya kehidupan.

Baca Juga:  Dema UIN Alauddin Makassar Kritik Kebijakan Kampus: Masuk Susah Keluar di Peras

Namun, tak jauh dari gemerlap itu di balik deretan lampu sorotan dan pepohonan rindang, di pinggiran jalan yang jarang dilirik hidup sepasang suami istri pemulung menjalani malam yang berbeda.

Diatas gerobak dorong yang penuh dengan kardus bekas, botol plastik, nampak duduk seorang anak kecil memakai pakaian lusuh, wajah mereka lelah, anak kecil itu harusnya berada dirumah menikmati kasur yang empuk seperti anak pejabat di luar sana, Namun itu beda nasib.

Sang suami merapikan hasil pungutan dimalam itu, sementara sang istri mencari botol bekas di tong sampah yang berjejeran sepanjang jalan, tangan mereka kasar oleh waktu dan kerja keras.

Dari tempat mereka mencari sampah bekas, di seberang jalan gemerlap alun-alun Sinjai bersatu, terlihat seperti lukisan indah yang terpisah oleh jarak tak kasatmata.

Baca Juga:  Solidaritas Donasi Rakyat: Apa Kabar CSR?

Tawa canda anak muda terdengar samar, bercampur dengan lantunan musik. Sang suami menatap ke arah cahaya lampu, matanya menyimpan harapan yang tak pernah benar-benar padam.

“nak Mungkin suatu hari nanti” dengan nada pelan, “kita juga bisa duduk di sana tanpa khawatir esok.”

Malam kian pekat. Alun-alun semakin ramai, sementara di pinggiran, pasutri itu bersiap melanjutkan langkah menyusuri kota mencari sesuap nasi, namun dengan cerita yang berbeda.

Alun-Alun kota Sinjai malam itu menyuguhkan kontras: kemegahan yang berkilau di taman kota, dan keteguhan yang sunyi di pinggiran.

Keduanya hidup berdampingan, saling melihat namun jarang benar-benar dipahami, Itulah wajah Indonesia.