Arthisnews – Opini Di zaman digital saat ini, cara masyarakat membentuk pemahaman terhadap suatu program pemerintah tidak lagi terbatas pada spanduk, baliho atau pengumuman resmi. Layar ponsel kini menjadi jendela utama yang menentukan apa yang mereka lihat, pikirkan dan rasakan.
Setiap hari, masyarakat bersentuhan dengan ratusan unggahan media sosial. Mulai dari berita, pendapat, hiburan, hingga kegiatan teman dan keluarga, yang secara tidak langsung memengaruhi sikap dan keputusan mereka.
Dalam kerangka ini, pemasyarakatan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) memerlukan pendekatan baru yang cocok dengan gaya komunikasi masyarakat modern. Cepat, visual, dan menyentuh sisi emosional.
Salah satu langkah kreatif yang layak dicoba adalah Gerakan Status Medsos Jingga, Konsepnya sederhana namun efektif.
Seluruh insan Badan Pusat Statistik (BPS) dari pusat hingga daerah, serentak mengunggah status, foto profil atau konten media sosial bernuansa jingga, warna khas SE2026.
Warna ini tidak sekadar pilihan estetika, melainkan simbol semangat, keterbukaan dan kebersamaan dalam mewujudkan data ekonomi yang akurat dan bermanfaat. Penggunaan warna jingga juga dikaitkan dengan identitas SE, yang dilakukan setiap tahun berakhiran enam, sehingga masyarakat perlahan memahami pola dan arti dari gerakan ini.
Bayangkan jika selama berbulan-bulan timeline media sosial dipenuhi warna jingga dengan pesan SE dari unggahan para pegawai BPS.
Efek visual ini akan membentuk asosiasi di benak publik. Jingga berarti BPS, sensus ekonomi, kegiatan resmi pemerintah yang penting. Ketika petugas SE2026 datang ke lapangan, masyarakat pun tidak lagi asing dengan simbol tersebut.
Mereka telah mengenalinya sebelumnya melalui media sosial, memahami maknanya, bahkan merasa menjadi bagian dari gerakan kesadaran kolektif tersebut.
Dari perspektif komunikasi publik, Gerakan Status Medsos Jingga dapat dipahami sebagai bentuk branding sosial. Setiap unggahan pribadi bertransformasi menjadi pesan kolektif yang membangun kesadaran masyarakat secara perlahan.
BPS tidak lagi tampil sebagai lembaga yang hanya bekerja di balik meja, tetapi sebagai institusi yang hadir di ruang digital, berinteraksi dengan warganya, serta memahami bagaimana informasi diterima dan diresapi oleh publik.
Dengan demikian, sosialisasi tidak lagi terasa kaku, melainkan akrab dan relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Namun, tentu saja gerakan ini bukanlah satu-satunya kunci sukses sosialisasi SE2026. Media sosial hanyalah pintu awal untuk membangun kedekatan dengan masyarakat.
Keberhasilan sosialisasi tetap bergantung pada konsistensi pesan, keaslian interaksi dan kemampuan petugas BPS berkomunikasi secara persuasif di lapangan. Dukungan lintas lembaga, pemerintah daerah, asosiasi bisnis, hingga media lokal juga menjadi sangat penting agar pesan tentang SE2026 dapat tersampaikan secara luas, berlapis dan menyentuh semua lapisan masyarakat.
Selain membangun kesadaran, gerakan ini juga memberikan keuntungan psikologis. Warna jingga yang konsisten di media sosial dapat menciptakan efek emosional yang positif. Masyarakat mulai merasa familiar dan nyaman ketika melihat simbol tersebut, sehingga menurunkan potensi resistensi atau kebingungan saat sensus benar-benar dilakukan.
Strategi ini memanfaatkan prinsip komunikasi yang sederhana namun ampuh: persepsi publik terbentuk lebih cepat ketika pesan disampaikan secara konsisten, berulang dan dalam bentuk visual yang mudah dikenali.
Gerakan Status Medsos Jingga juga menunjukkan bahwa sosialisasi publik tidak harus mahal untuk berdampak besar. Kreativitas, konsistensi dan kesadaran kolektif dapat menciptakan gerakan sosial yang signifikan dengan biaya minimal. Ini adalah bentuk komunikasi yang modern, menyesuaikan diri dengan cara masyarakat berinteraksi saat ini. Menggunakan warna, simbol, dan konten digital sebagai bahasa universal yang diterima oleh semua kalangan.
Melalui gerakan ini, BPS memiliki kesempatan untuk menegaskan bahwa sosialisasi bukan sekadar menyebarkan informasi, melainkan membangun hubungan emosional dan pemahaman publik. Pesan yang disampaikan melalui media sosial menjadi lebih dari sekadar informasi. Ia menjadi pengalaman visual yang membentuk persepsi, memudahkan interaksi di lapangan, serta menumbuhkan partisipasi aktif masyarakat dalam SE2026.
Kini, di tengah banjir informasi digital, pesan yang paling diingat masyarakat bukanlah yang paling keras, tetapi yang paling hangat dan dekat. Gerakan Status Medsos Jingga menawarkan cara baru menyentuh masyarakat.
Dengan warna, kreativitas dan kebersamaan. Setiap unggahan memiliki potensi untuk menumbuhkan kesadaran, dan setiap simbol jingga menjadi pengingat bahwa sensus ekonomi bukan sekadar tugas birokrasi, tetapi bagian dari upaya bersama membangun data yang akurat untuk masa depan bangsa.
Kalau sosialisasi bisa dilakukan dengan cara yang lebih hangat, dekat dan visual, mengapa harus kembali ke cara lama.?
Saatnya BPS menyalakan semangat jingga di dunia digital. Karena di era ini, kesadaran masyarakat lahir dari setiap unggahan bermakna dan gerakan kecil di media sosial dapat menciptakan dampak besar bagi suksesnya SE2026.
Penulis Opini : Amrullah, SE (Ketua Tim Garda SE26 Sinjai)

Tim Redaksi