Sinjai, Arthisnews – Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Sinjai berdiri pada tahun 1966 sebagai rumah besar pemuda, pelajar, dan mahasiswa Sinjai di tanah rantau.

Himpunan ini lahir dari semangat kolektif dan kesadaran bahwa anak daerah membutuhkan ruang untuk berhimpun, belajar, dan mengabdi. Namun, perjalanan panjang tidak selalu identik dengan kemajuan. Ada fase ketika organisasi perlu berhenti sejenak untuk bercermin.

Sejarah beberapa tahun terakhir menunjukkan pola yang berulang. Kepentingan personal kerap kali lebih dominan dibanding kepentingan kolektif. Politik praktis masuk ke ruang paguyuban. Orientasi bergeser dari pengabdian menjadi kontestasi. Organisasi yang semestinya menjadi rumah bersama perlahan berubah menjadi arena legitimasi.

Dualisme kepengurusan pada 2015 menjadi salah satu titik paling rapuh dalam perjalanan organisasi ini. Enam tahun konflik bukan sekadar angka, ia meninggalkan dampak struktural yang nyata. Banyak DPC, DPK, dan DPD fakum. Struktur tetap tercatat tetapi denyutnya melemah. Konflik yang panjang tidak hanya memecah, tetapi juga mengikis kepercayaan dan semangat kader.

Baca Juga:  Pastikan Program Gizi Berjalan Baik, Wabup Sinjai Kunjungi Dapur MBG Balangnipa 2

Rekonsiliasi 2022 dan Kongres XVI sempat menghadirkan harapan. Namun harapan itu kembali diuji ketika dualisme kembali muncul. Energi organisasi kembali tersita untuk membuktikan siapa yang sah, bukan untuk menjawab apa yang harus dilakukan.

Dalam situasi itu, penunjukan PLT Ketua DPP seharusnya menjadi titik terang. Ia hadir sebagai simbol rekonsiliasi dan sebagai jembatan menuju kepastian. Banyak kader menaruh harapan bahwa fase transisi ini akan menjadi momentum pembenahan menyeluruh dan langkah konkret menuju kongres yang definitif.

Penunjukan tersebut bukan sekadar formalitas administratif. Ia adalah mandat moral dan organisatoris untuk mengakhiri siklus konflik. PLT diharapkan menjadi figur penenang, pengonsolidasi, sekaligus eksekutor amanah organisasi.

Namun seiring waktu berjalan, harapan itu perlahan terasa memudar. Kepastian pelaksanaan kongres belum juga terlihat. Agenda transisi yang diharapkan menjadi solusi justru terkesan berjalan tanpa tenggat yang jelas. Ketika masa transisi terlalu panjang, optimisme perlahan berubah menjadi pertanyaan.

Baca Juga:  Khasiat Tanaman Buah Srikaya Untuk Mengobati Diare Secara Alami

Amanah tidak diukur dari lamanya memegang jabatan tetapi dari sejauh mana mandat itu dituntaskan. PLT adalah jembatan menuju kepastian. Jika jembatan terlalu lama berdiri tanpa membawa organisasi ke tujuan maka yang muncul bukan lagi antusiasme melainkan kegelisahan kolektif.

Di sisi lain, persoalan struktural juga tidak kalah serius. Dari 28 naungan DPP hanya sekitar tiga yang benar benar aktif secara konsisten. Selebihnya lebih sering senyap dan baru terlihat saat momentum kongres mendekat. Ini bukan sekadar soal keaktifan tetapi soal pembinaan dan konsolidasi yang belum berjalan maksimal.

DPP mungkin tampak berjalan tetapi jika DPC, DPK, DPD, dan lembaga otonomnya kurang bergerak maka kesehatan organisasi perlu ditinjau ulang. Organisasi tidak dinilai dari pusatnya saja melainkan dari sejauh mana seluruh strukturnya hidup sepanjang waktu dan bukan hanya saat membutuhkan legitimasi.

Baca Juga:  Khasiat Tanaman Temulawak Untuk Berbagai Kesehatan Tubuh

Menurunnya minat mahasiswa untuk bergabung menjadi konsekuensi yang tidak bisa diabaikan. Generasi hari ini mencari ruang yang jelas arah dan manfaatnya. Mereka ingin terlibat dalam gerakan yang nyata bukan dalam konflik yang berulang.

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan apalagi memperkeruh keadaan. Ini adalah ajakan untuk mengevaluasi secara jujur. HIPPMAS tidak kekurangan sejarah, tidak kekurangan kader potensial, dan tidak kekurangan alumni hebat. Yang dibutuhkan adalah konsistensi, keberanian menuntaskan amanah, dan kesadaran bahwa organisasi lebih besar dari individu mana pun.

HIPPMAS hari ini berada di titik evaluasi. Bukan untuk saling menunjuk tetapi untuk memastikan bahwa perjalanan ke depan tidak lagi mengulang pola yang sama.

Karena organisasi yang besar bukanlah organisasi yang tidak pernah konflik, melainkan organisasi yang mampu belajar, menyelesaikan transisi dengan tuntas, dan menjaga harapan agar tidak benar benar hilang.

Penulis: Arya (Kader HIPPMAS)