Sinjai, Arthisnews – Menjelang peringatan Hari Jadi ke-462 Kabupaten Sinjai, euforia seremoni justru berbanding terbalik dengan realitas yang dirasakan warga pulau sembilan. Di tengah usia daerah yang kian matang, warga masih bergulat dengan krisis air bersih, keterbatasan listrik, minimnya akses pendidikan, tingginya angka stunting, hingga tekanan ekonomi.

Krisis air bersih menjadi potret paling nyata dari ketimpangan tersebut. Warga mengaku telah lama hidup dalam keterbatasan, berjuang mendapatkan air layak konsumsi untuk kebutuhan sehari-hari. Harapan terhadap solusi permanen dari pemerintah daerah dinilai belum berbuah nyata.

“Krisis air bersih ini sudah berlangsung lama. Kami harus berjuang keras untuk mendapatkan air layak konsumsi. Saya sangat berharap pemerintah lebih serius menyediakan fasilitas air bersih agar masyarakat tidak lagi kesulitan memenuhi kebutuhan dasar,” ujar Herwin, warga Pulau Kambuno.

Baca Juga:  Dari Janin hingga Liang Lahat: BPOM Rayakan 25 Tahun Dengan Agenda Perempuan Berdaya

Masalah mendasar lain adalah listrik yang hingga kini masih bergantung pada mesin manual dengan durasi pemakaian terbatas. Kondisi mesin yang kerap rusak semakin mempersempit ruang gerak aktivitas warga, khususnya pada malam hari.

“Kebutuhan listrik di Pulau Sembilan sangat terbatas. Kami masih menggunakan mesin, bahkan sering dalam keadaan rusak. Hal ini membuat masyarakat kesulitan karena kebutuhan listrik tidak terpenuhi,” ungkap Herdiansyah, warga Pulau Liang-Liang.

Di sektor pendidikan, persoalan aksesibilitas siswa serta kesejahteraan guru turut menjadi sorotan. sehingga kualitas pendidikan dinilai tertinggal jauh Ketimpangan ini memperlihatkan bahwa pembangunan sumber daya manusia di pulau sembilan belum menjadi prioritas utama.

Persoalan gizi dan kesehatan juga mencuat melalui tingginya angka stunting di wilayah tersebut. Kondisi ini menegaskan lemahnya intervensi pemenuhan gizi masyarakat, khususnya bagi anak-anak. Warga menilai bahwa upaya penanganan belum dilakukan secara maksimal dan berkelanjutan, padahal dampaknya sangat menentukan masa depan generasi Pulau Sembilan.

Baca Juga:  Puluhan Mahasiswa Dihadang Seorang Preman Saat Ingin Melaksanakan Aksi Demostrasi

Di sisi ekonomi, masyarakat semakin terhimpit oleh anjloknya harga rumput laut sebagai komoditas utama penopang hidup. Harga jual yang kini hanya berkisar Rp6.000 per kilogram dianggap sangat tidak layak dan jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Harga rumput laut di Pulau Sembilan sekarang hanya kisaran enam ribu rupiah. Itu sangat murah dan tidak bisa menutupi kebutuhan sehari-hari kami,” keluh Fitri, warga Pulau Kanalo.

Akumulasi persoalan tersebut melahirkan kekecewaan mendalam. Warga menilai bahwa memasuki usia ke-462 tahun, Sinjai belum mampu menghadirkan perubahan yang dirasakan nyata oleh masyarakat kepulauan.

Alih-alih memberikan solusi berbagai masalah yang telah berlangsung lama justru terkesan dibiarkan tanpa penanganan serius dan berkelanjutan.

Baca Juga:  Di HUT Reserse Ke-78, Sat Resnarkoba Polres Sinjai Gelar Baksos Ke Warga Prasejahtera

“Sinjai sudah berusia 462 tahun, tetapi perubahan nyata belum kami rasakan. Semua masih sebatas seremonial, sementara kami di Pulau Sembilan masih hidup dengan berbagai keterbatasan. Kami bagian dari Sinjai, tetapi kebutuhan dasar kami belum terpenuhi hingga hari ini,” ujar Eka, warga Pulau Sembilan yang selama ini aktif menyuarakan berbagai persoalan pembangunan dan kebutuhan dasar masyarakat kepulauan..

Bagi masyarakat Pulau Sembilan, hari jadi daerah seharusnya bukan sekadar panggung perayaan dan seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi terhadap arah pembangunan yang inklusif dan merata.

warga pulau sembilan berharap pemerintah daerah menjadikan hari jadi sebagai titik balik untuk menghadirkan kebijakan yang lebih berpihak kepada masyarakat pulau sembilan. Tanpa langkah kebijakan yang berpihak, peringatan hari jadi hanya akan menjadi ritual tahunan yang jauh dari denyut persoalan riil masyarakat.