Jakarta, Arthisnews – Harga telur ayam ras di tingkat peternak terus merosot dan membuat para peternak kian terjepit. Pemerintah pun bergerak cepat mengambil langkah intervensi.

Harga telur ayam ras di tingkat peternak tercatat terus menurun sejak Maret 2026, dari Rp27.236 per kilogram menjadi Rp24.424 per kilogram pada awal Juni. Kondisi ini diperparah oleh kenaikan biaya produksi yang tidak sebanding dengan harga jual.

Di Blitar, Jawa Timur, sentra produksi telur terbesar nasional, harga di kandang bahkan menyentuh Rp20.600 per kilogram, jauh di bawah harga pokok produksi (HPP) yang mencapai Rp23.000 per kilogram.

Kondisi itu mendorong ratusan peternak yang tergabung dalam Peternak Rakyat Blitar Raya menggelar aksi untuk meminta perlindungan pemerintah.

“Harga telur anjlok. Hari ini di kandang Rp20.600 per kilogram, sementara HPP di kami itu Rp23 ribu per kilogram. Padahal HAP sebesar Rp24.500 sampai Rp26.500 per kilogram,” kata Koordinator Peternak Rakyat Blitar Raya, Suyanto.

Ketua Asosiasi Peternak Layer Nasional (PLN), Ki Musbar Mesdi, menyebut anjloknya harga terjadi karena populasi ayam petelur melonjak hingga 20 persen sehingga terjadi over supply, sementara daya beli masyarakat justru menurun.

Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Herry Dermawan, menambahkan bahwa peran tengkulak atau middleman turut memperparah situasi. Para tengkulak memanfaatkan kondisi stok melimpah untuk menekan harga beli dari peternak.

“Jadi harga yang sekarang ini bukan harga asli. Ada middleman. Kita minta bantuan Satgas Pangan supaya tidak mempermainkan harga,” tegasnya.

Di sisi lain, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman menyatakan pemerintah tidak akan membiarkan situasi ini berlarut-larut. Salah satu langkah yang diambil adalah mendorong penyerapan telur melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Per 18 Juni, harga telur ayam ras tingkat peternak secara nasional berada di Rp24.019 per kilogram, dengan harga terendah di Sumatera Selatan sebesar Rp22.000 per kilogram dan tertinggi di Sulawesi Utara sebesar Rp28.000 per kilogram.

Pemerintah menargetkan harga di tingkat peternak kembali menyentuh harga acuan pembelian (HAP) sebesar Rp26.500 per kilogram melalui penguatan distribusi, koordinasi dengan asosiasi peternak, serta perluasan program bantuan pangan berbasis telur.

Baca Juga:  Tindak Lanjut Instruksi Presiden, 20 Dapur SPPG Sinjai Gelar Kurve Kebersihan Demi Layanan Gizi Berkualitas